Indonesia Memiliki Banyak Budaya
Indonesia merupakan negara yang mempunyai banyak suku, adat, dan budaya. Maka dari itu Indonesia mempunyai banyak jenis upacara pernikahan sesuai dengan adat tiap daerah. Setiap daerah pasti punya upacara pernikahan yang unik sehingga siapa saja yang melihatnya bakal terpana. Megahnya acara yang ada, pernak-pernik pernikahan, sampai panjangnya ritual membuat banyak orang ingin cepat-cepat untuk dapat melakukannya di dalam waktu dekat. Rangkaian adat pernikahan ini tidak cuma sedap dipandang saja tetapi juga punya filosofi dan nilai budaya yang tinggi sehingga layak untuk dilestarikan.
Tidak sedikit orang yang mengidamkan pernikahan yang kental akan kebudayaan yang dianutnya. Namun yang mencengangkan, untuk etnis tertentu biaya yang dikeluarkan untuk upacara pernikahan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai beberapa pernikahan adat termahal yang ada di Indonesia.
Pernikahan Adat Termahal

Berikut ini beberapa suku di Indonesia dengan adat pernikahan yang tergolong mahal, diantaranya:
1. Adat Bugis, Sulawesi Selatan
Suku Bugis adalah salah satu suku yang memiliki proses persiapan pernikahan yang lumayan panjang dan melibatkan banyak orang. Prosesi pernikahan dimulai dalam tiga acara besar, yaitu sebelum akad nikah, saat akad nikah (pesta pernikahan), dan sehabis akad nikah.
Masing-masing memiliki 5 tahap yang mesti di lewati oleh pengantin beserta keluarganya. Adapun pengeluaran terbesar yang menjadikan pernikahan adat Bugis mahal adalah uang Panaik. Jumlah uang Panaik ini sesuai dengan garis keturunan si gadis, jenjang pendidikan, pekerjaan, bahkan ada keluarga yang menjadikan kecantikan sebagai penentu besaran uang Panaik.
Bagi seorang gadis lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) uang Panaiknya bisa mencapai Rp 100 juta ditambah perhiasan, dan juga dua ekor kerbau. Ada juga keluarga yang mesti membayar Rp 150 juta sampai Rp 200 juta untuk menikahkan anak laki-lakinya, sebab status sosial calon istrinya yang lebih tinggi.
Di Suku Bugis, uang Panaik ini menentukan keseriusan dari calon mempelai pria didalam mendapatkan si gadis untuk diperistri.
2. Adat Banjar, Kalimantan Selatan
Bagi calon pengantin yang ingin menikah menggunakan upacara adat Banjar mesti menyiapkan biaya lebih saat memberikan mahar atau didalam bhs Banjar disebut Maatar Jujuran.
Berdasarkan perhitungan penduduk setempat, mahar bersifat uang atau emas dipatok pada Rp 5 juta sampai Rp 20 juta, dan itu belum termasuk barang-barang lamaran lainnya. Pada dasarnya uang Jujuran merupakan modal berumah tangga yang di sediakan oleh pihak laki-laki, sebab nantinya pengantin laki-laki yang akan jadi kepala rumah tangga.
Hampir serupa dengan adat Bugis, calon mempelai pria mesti menyiapkan uang Jujuran yang besar jika calon pengantin perempuan berasal dari keluarga terpandang atau keluarga kaya.
Selain itu, kecantikan calon pengantin perempuan bisa jadi faktor penentu berapa besaran uang Jujuran, makin cantik maka makin mahal pula uang Jujuran. Biasanya yang memilih besaran uang Jujuran adalah orang tua dari pihak perempuan. Selain kedua faktor di atas, orang tua dapat mengkalkulasi biaya pernikahan yang dibutuhkan nantinya.
3. Adat Batak, Sumatera Utara
Di Adat Batak mahar yang disiapkan oleh calon pengantin berdarah Batak mesti sesuai dengan tingginya kualitas mempelai wanita yang dipinang. Dalam adat Batak, proses ini dinamakan Marhata Sinamot atau proses tawar-menawar.
Ada tiga hal yang mesti dipenuhi oleh calon pengantin dan memakan biaya mahal.
Ketiga item ini adalah Sinamot atau mahar, ulos, dan biaya pernikahan. Jika pengantin perempuan bukan dari suku Batak, maka diselenggarakan upacara tambahan untuk pemberian marga.
Kemudian kedua calon pengantin mesti menyiapkan biaya tersendiri untuk melaksanakan Martumpol (prosesi pertunangan) dan Martonggo raja (akad atau pemberkatan), di luar dari resepsi pernikahan itu.
Sinamot atau mahar diberikan sesuai jenjang pendidikan calon pengantin perempuan, jika sarjana, Sinamot bisa mencapai Rp 50 sampai Rp 80 Juta. Lalu kain ulos yang diserahkan pihak laki-laki kepada perempuan mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 3 jutaan.
Pihak pengantin pria mesti jadi penyedia utama dari penyelenggaraan pesta pernikahan. Sedangkan untuk biaya pernikahan, bisa mencapai Rp 83 juta. Jadi keseluruhan yang mesti disiapkan kira-kira sekitar Rp 100 juta.
4. Adat Minang, Sumatera Barat
Masyarakat Minang memegang tradisi matrilineal, yang berarti garis keturunan nantinya akan mengikuti garis keturunan pihak wanita. Maka sebelum pernikahan, pihak wanita yang menjalankan lamaran dan pihak pria yang akan dijemput ke lokasi pernikahan.
Biaya yang tidak boleh terlewatkan juga adalah biaya pertunangan yang terdiri dari dari cincin dan serah-serahan. Dalam rangkaian upacara adatnya, ada namanya Malam Bainai oleh mempelai perempuan, yakni ritual unjuk kasih sayang terhadap para sesepuh sebelum pernikahan dengan menghias tangan perempuan dengan inai (pacar).
Biayanya bisa mencapai Rp 150 juta. Angka ini termasuk cost gedung, makanan, dokumentasi, cendera mata, serta cost arak-arakan, busana tradisi lengkap untuk pengantin dan keluarga, pemusik, dan tokoh adat.
5. Adat Sasak, Lombok
Pernikahan khas tradisi Sasak bisa dikatakan unik jika dicermati dari rangkaian prosesinya. Hal ini sebab sebelum ditunaikan pernikahan calon pengantin laki-laki akan menculik calon pengantin perempuan dan dibawa ke rumah keluarganya.
Bagai masyarakat Sasak, keluarga perempuan akan tersinggung jika ada laki-laki yang langsung datang tanpa menculik lebih dahulu. Di Kampung Sade, Lombok Tengah, mahar untuk meminang perempuan di desa ini ditentukan berdasarkan beragam faktor. Mulai dari jauhnya jarak rumah, status kebangsawanan, serta tingkat pendidikan dan pekerjaannya.
Adapun perhitungan jumlah mahar di masyarakat Sasak sesuai dengan jarak berasal dari rumah keluarga perempuan ke keluarga laki-laki, misalnya, berapa jembatan atau berapa masjid yang dilewati. Sehingga bagi pasangan pengantin yang berdomisili di kampung yang sama cost maharnya lebih murah, yakni Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.
Walaupun mahar memiliki harga, tapi tidak diberikan di dalam bentuk uang melainkan sapi atau kerbau dan beras yang disimbolkan dengan tali dan karung. Tali berarti sapi atau kerbau, dan karung berarti beras.